KILAS-INFONEWS.COM/PESAWARAN — Upaya Pemerintah Kabupaten Pesawaran dalam mendorong kemandirian pangan dan ekonomi desa mulai membuahkan hasil. Desa Sukadadi, Kecamatan Gedong Tataan, kini menjadi contoh sukses pengembangan bawang merah, dengan hasil panen melimpah dan kualitas umbi yang unggul.
Program yang digagas sebagai pilot project pengembangan sentra bawang merah itu dikelola langsung oleh pemerintah desa melalui BUMDes Sukadadi. Kini, hasilnya mulai terlihat jelas — dari lahan seluas 1,5 hektar, masyarakat berhasil memanen sekitar 5,6 ton bawang merah pada panen perdana tahun ini.

Kepala Desa Sukadadi, Rudi Maryoto, menyampaikan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian tersebut.
Alhamdulillah, panen kali ini sangat memuaskan. Dari 1,5 hektar lahan, hasilnya mencapai 5,6 ton. Umbinya pun bagus-bagus dan layak jual,” ujar Maryoto saat meninjau lokasi panen, Senin (3/11/2025).
Ia menjelaskan, keberhasilan itu tak lepas dari semangat warga serta pendampingan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Pesawaran melalui Dinas Pertanian. Selain hasil panen meningkat, harga jual bawang merah di pasaran juga mengalami kenaikan signifikan.
Sekarang harga sudah menembus Rp30.000 per kilogram. Ini kabar gembira bagi petani dan mendorong semangat mereka untuk menanam lagi,” tambahnya.

Maryoto menegaskan, budidaya bawang merah telah terbukti mampu mengangkat ekonomi warga desa. Karena itu, pemerintah desa berkomitmen menjadikan komoditas ini sebagai tumpuan ekonomi baru masyarakat.
Kalau kita tekun dan disiplin merawat tanaman, hasilnya pasti terasa. Kami ingin bawang merah jadi ikon baru Sukadadi,” tegasnya.
Lebih lanjut ia mengungkapkan, masa tanam bawang merah relatif singkat — sekitar 60 hingga 70 hari — dengan syarat perawatan intensif agar tanaman tidak mudah busuk.
Bawang merah sensitif terhadap kelembapan, jadi harus rajin dipantau. Kalau tidak dirawat, bisa cepat busuk dan gagal panen,” jelasnya.

Selain mengembangkan bawang merah, Desa Sukadadi juga menanam cabai merah sebagai tanaman sela. Langkah ini dilakukan untuk menambah penghasilan petani sekaligus menjaga ketahanan pangan di tingkat lokal.
Program ini melibatkan sekitar 40 warga yang bekerja secara bergotong-royong di bawah koordinasi BUMDes Sukadadi. Menurut Maryoto, antusiasme warga menjadi modal sosial penting bagi keberlanjutan program.
Semangat warga luar biasa. Mereka bekerja sama tanpa pamrih, karena tahu hasilnya akan kembali untuk kesejahteraan bersama,” ungkapnya.

Ia berharap agar dukungan dari pemerintah daerah terus berlanjut, terutama dalam hal pembinaan dan penyediaan sarana produksi pertanian.
Kami mohon arahan dan pendampingan jangan sampai berhenti. Petani butuh bimbingan agar bisa terus belajar dan meningkatkan kualitas panen,” katanya.
Budidaya bawang merah di Sukadadi tidak hanya menjadi solusi ekonomi desa, tetapi juga sejalan dengan program ketahanan pangan nasional yang tengah digalakkan pemerintah pusat.Ini langkah nyata kami mendukung program Presiden Prabowo Subianto di bidang ketahanan pangan. Dari desa kecil seperti Sukadadi, kita bisa membangun kekuatan pangan bangsa,” pungkas Maryoto.
(Red)






